Buku ini ditulis oleh orang yang menggarap film dokumenter "Dirty Vote" (2024). Film yang cukup viral pada tahun pemilu. Lalu beliau kembali membuat karya berupa buku yang jika dibaca cukup menyayat hati.

Buku ini ditulis oleh orang yang menggarap film dokumenter "Dirty Vote" (2024). Film yang cukup viral pada tahun pemilu. Lalu beliau kembali membuat karya berupa sebuah buku.
Ada masa ketika sebuah bangsa tidak kekurangan sumber daya, tetapi kehilangan keberanian untuk bertanya ke mana ia melangkah. Reset Indonesia hadir dari kegelisahan semacam itu. Buku ini bukan laporan perjalanan biasa, bukan pula manifesto politik yang kaku. Ia adalah kumpulan renungan dari jalan panjang yang dilalui penulisnya menyusuri wilayah, mendengar cerita, dan mencatat keganjilan yang selama ini kerap luput dari pusat perhatian.
Indonesia yang disajikan di sini bukan Indonesia versi baliho pembangunan atau angka statistik tahunan. Yang muncul justru Indonesia apa adanya: penuh potensi, tetapi rapuh oleh ketimpangan; kaya alam, tetapi miskin keberpihakan. Buku ini seperti mengajak pembaca berhenti sejenak, menarik napas, lalu bertanya dengan jujur: apakah arah yang kita tempuh hari ini benar-benar membawa keadilan bagi semua?
Keunikan buku ini terletak pada caranya memandang perjalanan. Perjalanan tidak diposisikan sebagai aktivitas romantik atau petualangan eksotis, melainkan sebagai metode berpikir. Setiap tempat yang disinggahi menjadi ruang refleksi tentang relasi kekuasaan, ekonomi, dan kemanusiaan. Desa, kota kecil, hingga wilayah pinggiran hadir bukan sebagai latar, tetapi sebagai subjek yang memiliki suara.
Pendekatan ini membuat kritik dalam buku terasa hidup. Ketimpangan tidak dibahas lewat teori semata, melainkan lewat kisah nyata yang menunjukkan bagaimana kebijakan sering kali jauh dari denyut kehidupan warga. Di sinilah buku ini terasa dekat dengan pembaca: ia tidak menggurui, tetapi mengajak berdialog.
Buku ini berani menyentuh titik-titik sensitif pembangunan nasional. Ia mempertanyakan logika pertumbuhan ekonomi yang kerap mengorbankan ruang hidup, mengkritik kebijakan yang menumpuk keuntungan di segelintir tangan, serta menyoroti demokrasi yang secara prosedural berjalan, tetapi secara substantif kian menjauh dari rakyat.
Namun kritik tersebut tidak disampaikan dengan nada sinis. Ada empati yang terasa konsisten bahwa di balik setiap data ada manusia, dan di balik setiap kebijakan ada konsekuensi nyata. Ini mengingatkan pada satu hal penting: kritik paling kuat bukan yang paling keras, melainkan yang paling jujur.
Yang membuat Reset Indonesia menarik bukan hanya keberaniannya mengkritik, tetapi juga upayanya membuka kemungkinan lain. Buku ini mengajak pembaca membayangkan Indonesia yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika pasar, Indonesia yang memandang alam sebagai mitra hidup, bukan objek eksploitasi, serta Indonesia yang menata kota sebagai ruang bersama, bukan etalase kepentingan.
Gagasan-gagasan ini memang terdengar ideal, bahkan utopis di beberapa bagian. Namun justru di sanalah kekuatannya: buku ini menolak tunduk pada realisme sempit yang menganggap perubahan sebagai sesuatu yang mustahil. Ia mengingatkan bahwa sejarah bangsa ini justru lahir dari keberanian membayangkan hal yang sebelumnya dianggap tidak mungkin.
Buku ini dikemas dengan sangat baik. Bagi pembaca yang ingin memahami persoalan Indonesia yang telah berakar selama puluhan tahun, Reset Indonesia menawarkan gambaran yang runtut, tajam, dan mudah diikuti. Buku ini tidak sekadar memaparkan masalah, tetapi mengajak pembaca menyadari bahwa berbagai krisis yang dihadapi bangsa hari ini merupakan akumulasi dari proses sejarah, kebijakan publik, dan pilihan kolektif yang terus direproduksi. Dengan pendekatan reflektif yang berpijak pada pengalaman lapangan, Reset Indonesia mendorong pembaca untuk berpikir lebih kritis, melihat persoalan secara menyeluruh, serta keluar dari cara pandang dangkal yang selama ini dibentuk oleh retorika dan slogan pembangunan.
Pada akhirnya, Reset Indonesia bukan ajakan untuk menghapus masa lalu, melainkan untuk meninjaunya dengan lebih jujur. “Reset” di sini bukan tindakan instan, melainkan proses kesadaran—bahwa bangsa ini perlu berani mengoreksi arah, memperbaiki fondasi, dan mendengarkan suara yang selama ini terpinggirkan.
Buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang peduli pada masa depan Indonesia, bukan karena ia menawarkan jawaban final, tetapi karena ia mengajarkan satu hal penting: perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk bertanya, lalu bertindak dengan akal sehat dan nurani yang terjaga.
Credit gambar pada banner:
@Ringgo di Medium